Tampilkan postingan dengan label Aqidah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah Islam. Tampilkan semua postingan

23 Mei 2009

Musyrik, Munafiq, Fasiq, kafir dan Murtad

1. Musyrik adalah mengadakan sekutu terhadap Allah. Percaya bahwa ada wujud tuhan, selain Allah. Musyrik tidak akan diampuni dosanya. (Baca Luqman 13)

2. Munafiq, adalah orang yang menampakan dan mengumumkan bahwa dia beriman padahal hatinya kafir. (baca Albaqarah 8)

3. Fasik, adalah seorang muslim yang meninggalkan kewajiban-kewajibannya atau selalu melakukan perbuatan yang diharamkan. (baca AlBaqarah 26-27)

4. Kafir, Adalah orang yang tidak beriman dan tidak beragama dengan agama Islam.

5. Murtad, Adalah orang yang keluar dari agama Islam dan kemabali kepada kekafiran. (baca Albaqarah 217)

Mukmin, Muslim dan Muttaqi

1. Mukmin, adalah orang-orang yang beriman dengan rukun iman dalam hati, perkataan dan perbuatanya.
Allah Berfirman :
( انما المؤمن الذين اَ منوا با لله ورسوله ثم لم يرتابوا و جاهدوا باًموالهم واًنفسهم فى سبيل الله اًولئك هم الصا دقون ) (al Hujurat: 15)

2. Muslim, adalah orang yang bergama dengan agama Islam, berserah diri dan tunduk dan taat kepada perintah Allah dan RasulNya (Solallahu 'alaihi wa salam)
Allah Berfirman:
( ومن احسن قولا ممن دعا إلى الله و عمل صا لحا و قال إننى من المسلمين ) ( Fushilat : 33)

3. Muttaqi, adalah orang yang bertakwa kepaa Allah dan Takut kepadaNya dan menjuhkan dri dari neraka dan dari adzabNya dengan senantiasa mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNYa. Bagi Muttaqi itu memiliki sifat sifat sebaimana tersebut dalam ayat berikut:
" yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib dan mendirikan sholat dan dari apa-apa yang direzekikan kepadanya diinfakkan ( ) dan orang-orang yang berimn kepada apa-apa yang diturunkan (oleh Allah) kepada mu(Muhammad S.a.w) dan apa-apa yang diturunkan kepada (rasul) sebelummu dan kepada hari akhir mmereka meyakininya.) ( Al Baqoroh 3-4)

Manusia dalam Pandangan Islam

Sesunguhnya manusia itu diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sempurna dan bagus, dan manusia diciptakan sebagai kholifah Allah di Bumi, dan telah dijadikan Bumi seisinya untuk tunduk kepada manusia.
Allah Befirman : (لقد خلقنا الإنسان فى اًحسن تقويم ) "Sungguh Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna" (At Tiin :5)

Manusia diciptakan Allah dari tanah (thin), Allah berfirman,
(اذ قال ربك للملائكة إنى خالق بشرا من طين ) "( Shod : 71)
Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa benar adanya jika manusia itu sebenarnya dari tanah. Tanpa adanya tanah tidak mungkin manusia bisa tumbuh. semua makanan yang ada, pada awalnya adalah dari tanah.

Kewajiban manusia sebagai kholifah Allah di bumi adalah tidak lain hanya untuk menyembah Allah semata.

Menurut Islam manusia itu terdiri dari dua bagian yang membuatnya menjadi manusia sempurna, yaitu terdiri dari Jasmani dan rohani, disamping itu manusia juga telah dikaruniai fitrah. Kita hidup di dunia ini bisa menyaksikan sendiri ada persamaan-persamaan yang dimiliki manusia. Seperti Cinta keadilan, kasih sayang, dan lainnya, itulah menurut kami yang disebut fitrah.

A. Jasmani
Sungguh beruntunglah kita yang dikaruniai jasmani yang sempurna. kaki, tangan, lidah, mata, hidung, telinga, perut dan faraj adalah pemberian Allah yang harus kita syukuri dengan mempergunakannya untuk melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dengan jasmani kita bisa merasakan kenikmatan hidup di dunia ini.



B.Rohani
Yaitu unsur manusia yang tidak kasatmata, yang menjadikan jasmani menjadi manusia yang hidup. Dalam buku yag ditulis Barmawie Umary, rohani terdiri dari:

1. Akal = dengannya manusia yang lemah bisa mengendalikan kehidupannya di dunia. Berkat akal pula kehidupan manusia bisa jadi lebih mudah. Apa yang ada dihadapan anda sekarang ini adalah bukti kemampuan yang dikaruniakan Allah hanya kepada manusia, yaitu akal. Dengan Akal pulalah perbedaan antara hewan dan manusia sangat mencolok.

2. Nafsu = adalah suatu bagian rohani yang dimiliki manusia untuk berkehendak atau berkeinginan. Tanpa nafsu barangkali takkan ada kemajuan dalam hidup manusia. Akan tetapi seringkali nafsu mengalahkan hati dan akal sehingga yang terjadi adalah kerusakan. Masih dari buku karya Barmawie, tersebut bahwa nafsu dikategorikan menjadi:

  • Nafsul Ammarah : Yaitu jiwa yang belum mampu membedakan yang baik dan buruk, lebih mendorong kepada tindakan yang tidak patut.
  • Nafsul Lawwamah :Yaitu jiwa yang telah memiliki rasa insaf dan menyesal setelah melakukan suatu pelanggaran, malu perbuatan buruknya diketahui orang lain an tetapi belum mampu untuk menghentikan tindakanya
  • Nafsul Musawwalah : Jiwa yang telah bisa membedakan yang baik dan buruk, telah bisa menggunakan akalnya untuk menimbang mana yang baik dan mana yang buruk.
  • Nafsul Muthmainnah : Yaitu jiwa yang telah mendapat tuntunan dan terpelihara sehingga mendatangkan ketenangan jiwa. Dengan jiwa ini akan melahirkan sikap dan perbuatan yang baik dan membentengi kekejian
  • Nafsu Mulhamah : Adalah jiwa yang memperoleh ilham dari Allah SWt dikarunia ilmu dan dihiasi Akhlak Mahmudah.
  • Nafsu Raadliyah : Yaitu jiwa yang ridho kepada Allah, selalu bersyukur kepadaNya.
  • Nafsu Mardliyah : Yaitu jiwa yang diridhoi Allah
  • Nafsu Kaamilah : Yaitu jiwa yang telah sempurna

3. Qolbu(hati) = Dari hatilah segala kepribadian manusia muncul. Apabila hati selalu dibina secara baik sesuai Syari'at maka manusia akan berakhak mulia. Akan tetapi seringkali kekuasaan hati tertutupi oleh kekuasaan nafsu, apalagi dengan ditambah bisikan-bisikan syetan, sehingga yang muncul bukanlah cahaya Ilahi akan tetapi bisikan syetan. Oleh karenanya hati harus selalu disirami tuntunan Islam dengan selalu berzdikir kepada Allah. Dalam menjaga hatinya seorang muslim harus selalu wasapada terhadap terjangkitnya penyakit hati. PEnyakit hat sungguh berbahaya bagi kehidupannya.

4. Roh = Seorang mukmin percaya bahwa manusia hidup karena roh yang ada dalam jasadnya. Akan tetapi bagaimana bentuk atau wujudnya itu bukanlah urusan manusia, karena Allah telah berfirman : Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh; katakanlah : Roh itu urusan Rabb ku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit." (Al Isra ;85)


( وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون ) " Dan tidaklah Aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk menyembah(Ku). (Adzariyat : 56)

Rukun iman

Rukun iman ada 6 yaitu :
1. Iman kepada Allah, Yaitu percaya dengan yakin di dalam hati bahwa yang menciptakan alam seisinya adalah Allah Tuhan semesta alam

2. Iman Kepada Malaikat, yaitu percaya dengan yakin bahwa selain menciptkan manusia Allah juga menciptkan para Malaikat.

3. Iman kepada Kitab-kitab, yaitu mempercayai bahwa Allah telah menurunkan Kitab-kitab kepada manusia di dunia ini untuk menunjukan manusia kepada jalan kebenaran.

4. Iman kepada Para Rasul, yaitu mempercayai bahwa Allah telah mengutus Para rasul untuk menyampaikan kebenaran.

5. Iman kepada hari akhir, yaitu mempercayai bahwa kehidupan di dunia ini akan berakhir pada waktu yang hany dietahui oleh Allah. Dan setelah datangnya hari akhir maka dimulailah kehidupan akherat.

6. Iman kepada Qodar Nya yang baik dan yang buruk, Yaitu mempercayai bahwa segala perkara itu telah ada ketetapanya di sisi Allah.

Sabda Rasulullah S.a.w, yaitu ketika ditanya malaikat Jibril('alaihi Salam) : Maka kabarkanlah kepadaku tentang iman? , ( yaitu bahwa engkau beriman kepada Allah dan malaikat-malaikatNya, dan kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya dan Hari akhir, dan beriman kepada QodarNya yang baik dan buruk, berkatalah Jibril: benarlah kamu. )

Iman, Islam dan Ihsan

Pengertian

Iman, dari lafadz اَ من - يؤمن - ايمانا . yaitu membenarkan dalam hati dan mengikrarkan dalam lisan dan dan mengamlkan dengan rukun-rukun.

Islam, dari lafadz اً سلم - يسلم - إ سلاما yaitu mengikuti segala yang datang dari Nabi Muhammad S.a.w dan meninggalkan segala hal yang dilarangnya.

Ihsan, dari Lafadاحسن - يحسن إحسانا , yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya dan apabila engkau tidak melihatNya maka sesungguhnya Allah melihatMu.
Ihsan merupakan sifat tertinggi seorang muslim karena dalam keadaan apapun dimanapun dia berada dia merasa selalu dilihat oleh Allah sehingga di selalu takut untuk berbuat hal yang dilarang oleh Allah.

Makna Akidah Islam

Pengertian Akidah
Akidah berasal dari kata عقد-يعقد-عقدة و عقيدة yang berarti mengikat.
Akidah secara istilah yaitu apa-apa yang diikat atau dipercayai oleh hati dan pikiran.
Sedangkan yang dimaksud dengan akidah islam adalah segala perkara yang dipercayai oleh umat islam dengan mantap menurut akal sehatnya.


Usul akidah Islam
Masalah-masalah dan perkara-perkara yang wajib bagi seorang muslim untuk mengimaninya (mempercayainya) di dalam kaitannya dengan akidah Islam dimungkinkan untuk dibagi ke dalam4 macam yaitu :
1. Ketuhanan, yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah SWt, baik itu nama-namaNya dan juga Sifat-sifatNya.
2. Kenabian dan Risalah, Yaitu yang berkaitan dengan seputar para Rasul, nabi-nabi, Keunggulannya, sifat-sifatnya, mukjizat-mukjizatnya dan juga kemaksumannya.
3. Ruhaniyah, Yaitu yang berkaitan dengan alam yang tidak nampak secara kasat mata, seperti adanya Maaikat, Jin, syetan dan ruh.
4. Sam'iyat, Yaitu berita-berita dari alam gaib yang tidak ada yang mengetahuinya (kecuali Allah) yang disebut dalam Al Quran dan Sunnah Nabi.

Cinta Terhadap Ilmu

Islam mengajarkan kepada muslimin untuk menuntut ilmu, karena ilmu sangat penting sekali dalam hidupnya. Ilmu itu seperti cahaya dan lampu pada malam yang gelap gulita. Al Quran adalah landasan ilmu dan ada Banyak ayat yang mendorong untuk menyebarkan ilmu. Al Quran diturunkan untuk merubah kebekuan/kejumudan pikiran manusia dari kegelapan menuju cahaya.
طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة
) "meuntut ilmu itu adalah fardhu bagi setiap muslim dan muslimah"

"Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptkan-Menciptakan manusia dari segumpal darah-Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah- Yang mengajar (manusia) dengan Qolam(pena)- Mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya". (Al 'Alaq ; 1-5).

Allah melebihkan manusia dengan makhluk lainnya, yaitu dengan mengkaruniakan akal agar manusia dapat membedakan yang hak dengan yang bathil, antara halal dengan haram.
Muslim diperintahkan untuk selalu mempergunakan akalnya. Ada sekian banyak ayat yang mendorong manusia untuk selalu menggunakan akalnya. Dalam Alquran banyak tersebut kata-kata ;Apakah kamu tidak berfikr(afal tafakarun), Apakah kamu tidak mepergunakan akalmu (afala ta'qiluun),apakah kamu tidak berfikir (afala tandzuruun).

Keutamaan Ilmu sebagaimana tersebut dalam hadist:
1. Keutamaan ilmu lebih baik dari keutamaan ibadah (HR. Albizar)
2. Sedikit ilmu lebih bik dari banyak beribadah( HR. Thabraani)
3. Mempelajari satu ayat alquran itu lebih baik dari pada solat seratus rokaat, Mempelajar satu bab ilmu lebih baik dari pada sholat seribu rakaat. (tersebut dalam hadist yang diriwayatkan oleh ibnu majah)

Dengan ilmu maka Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu dan juga tentu antara orang yang berilmu dengan yang tidak itu berbeda. Biasanya orang yang berilmu dan memahami ilmunya memiliki kedudukan yang kuat dan mantap pikirannya. Sehingga Syetan tidak mudah untuk menggodanya. Rasulullah bersabada :" Seorang yang faham (fakih) lebih berat bagi syetan dari pada seribu orang yang beribadah." (HR. Tirmidzi), dan juga :" Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang beribadah (tanpa ilmu) seperti keutamanku (Nabi Muhammad) atas orang yang paling rendah diantara kamu sekalian" (HR. Trimidzi)

Semua ilmu memiliki peranan masing-masing dan memiliki keutamaan yang saling terkait. Kita umat Islam sering kali membeda-bedakan ilmu dari segi keutamaannya. Sering kali ilmu-ilmu yang lebih banyak berhubungan dengan dunia dikesampingkan. Sehingga seakan terjadi ketimpangan dalam merealisasikan "Ilmu agama"(Aqidah, fiqih, akhlak, dll) dalam kehidupan di dunia. Banyak sekali di era ini benturan-benturan antara "ilmu dunia" dengan "ilmu agama". Menurut saya hal ini terjadi karena telah sekian lama umat islam mengesampingkan "ilmu dunia". Sehingga "ilmu dunia" yang ada saat ini dibangun oleh umat lain yang tidak sejalan dengan ajaran islam. Akibatnya, Dunia saat ini sedang dikuasai oleh non-muslim. Umat Islam seakan tidak memiliki daya untuk mengagungkan Kebesaran Allah di muka bumi. Parahnya lagi Dengan ilmu yang dikuasai oleh non-Islam, umat islam ditindas (baik penindasan berupa budaya yang tidak sesuai dengan ajaran islam,maupun penindasan fisik). Memang saat ini telah banyak pemikiran yang intinya bahwa "ilmu dunia" juga wajib dipelajari oleh umat islam. Sayangnya setelah sekian puluh tahun belum nampak juga hasilnya. Ini tidak lain akibat masih banyaknya KEMALASAN dan kurangnya pemahaman Kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim. Menuntut ilmu tidak harus di tempat formal (sekolahan).

Iman Kepada Malaikat-malaikatNya

Pengertian
Iman Kepada Malaikat yaitu meyakini tanpa ragu di dalam hati dan pikiran bahwa selain menciptakan manusia Allah juga mneciptakan malaikat dari cahaya, dan bahwa malaikat itu adalah makhluk yang paling taat dan tidak sekalipun berbuat maksiat.

Dalil:
"Dan barang siapa yang kafir terhadap Allah, malaikat-malaikatNya , kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari akhirat maka sungguh dia dalam kesesatan yang nyata". (AnNisa': 136)
"Barang siapa menjadi musuh Allah dan malaikat-malaikatNya dan Rasul-rasulNya dan jibril dan mikail maka Sungguh Allah musuh orang-orang kafir". ( AlBaqarah: 98)


Sifat-sifat Malaikat
1. Wujudnya halus tak nampak mata "خلق الملائكة من نور " (HR.Muslim)
2. Tidak laki-laki dan tidak perempuan dan tidak menikah. (lihat Asshafat:149-152)
3. Memiliki ajnihah. Lihat Surat Fathir ayat 1.
4. Hamba Allah yang mulia, tidak sekalipun menentang perintah Allah .( At Tahrim: 6)

Tugas-tugas Malaikat
1. Jibril, Bertugas menyampaikan whayu ilahi kepada rasul dari Adam AS sampai Muhammad SAW.
2. Mikail, yang membagi rizki,mengatur hujan, angin dan bintang.
3. Israfil, yang meniup sangkakala, tiupan pertam terjadi kiamat dan tiupan kedua manusia dibangkitkan (yaumul ba'ts)
4. Izarail, Yang mencabut ruh manusia
5. Raqib dan 'Atid, mencatat amal perbuatan manusia
6. Munkar dan Nakir, Menanyai manusia dalam kubur.
7. Malik, Yang menjaga neraka
8. Ridwan, yang menjaga surga

Iman Kepada Kitab-Kitab Allah

Pengertian
Meyakini dengan tanpa keraguan bahwa kitab-kitab Allah yang suci yang diturunkan kepada para Rasul adalah kalam Allah.
Dalil yang menunjukan supaya beriman kepada kitab-kitabNya yaitu diantaranya : AnNisa' ayat 136 dan 163, Ali Imran 2-4.

Kitab dan Sohifah
Seungguhnya kitab dan sohifah dalam istilah syar'i keduanya adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul-rasulnya dengan cara diwahyukan atau di balik tabir atau melalui perantara Jibril.

Dalam AlQuran tersebut ada 4 kitab Suci yang diturunkan Allah :
1. Taurat, adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada Musa A.S.
2. Zabur, adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada Dawud A.S
3. Injil, Adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada Isa A.S.
4. Al Quran, Adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul, yaitu Muhammad SAW.
Sohifah Yang diturunkan yaitu :
1. Sohifah yang diturunkan kepada Adam A.S.
2. Sohifah yang diturunkan kepada Syis A.S.
3. Sohifah yang diturunkan kepada Idris A.S.
4. Sohifah yang diturunkan kepada Ibrahim A.S
5. Sohifah yang diturunkan kepada Musa A.S.


Al Quran Al Karim
Adalah kitab Allah yang suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat semesta alam. Al Quran adalah mukjizat terbesar yang mampu memenuhi semua hajat manusia sampai akhir zaman. (Jika manusia mampu memahami maksud yang sebenarnya dari setiap ayat yang ada dalam Al Quran).

Kelebihan Alquran atas Kitab-Kitab sebelumnya:

  1. Dari segi turunnya: AlQuran diturunkan kepada Muhammad SAW dengan Haq, kemudian para sahabat memperolehnya dengan cara hafalan dan ditulis. (بالحق أنزلناه وبالحق نزل ) (Al isra" :105)
  2. Kandungan AlQuran sempurna, Yaitu menjadi pertimbangan kebenaran terhadap kitab-kitab sebelumnya, Apa-apa yang sesuai dengan Alquran maka itulah yang Haq. (و انزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتاب ومهيمنا عليه )( Al Maidah: 48).
  3. AlQuran adalah satu-satunya kitab Suci yang selamat dari penyelewengan dan perubahan yang dilakukan oleh pengikutnya yang tak bertanggung jawab.( انا نحن نزلنا الذكر و انا له لحافظون ) (AlHijr: 9)
  4. Bahasa yang dipakai di dalam AlQuran sangat indah tidak akan ada yang mampu membuat ayat seperti itu. (Baca AlBaqarah: 23-24)
  5. AlQuran adalah petunjuk dan syifaaun. (baca Yunus: 57)
  6. AlQuran adalah Kitab yng pling sering dibaca Manusia.

Asmaul Quran.
  1. Alkitab, karena ditulis dan dicatat. ( ذلك الكتاب لا ريب فيه )(AlBaqarah: 2)
  2. AlFurqon (pembeda), karena membedakan antara yang haq dan yang batil. (تبارك الذى نرل الفرقان على عبده ) (Alfurqon: 1)
  3. AlBayinah(penjelas), karena menjelaskan kepada manusia pengetahuan yang sohih. ( حتى تأتيهم البينه )(AlBayinah: 1)
  4. Addzikra, Karena mengingatkan manusia. ( انا نحن نزلنا الذكر و انا له لحافظون )

Iman Kepada Para Rasul

Yaitu meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah sungguh telah memilih dari hamba-hambaNya sebagai seorang Rasul, dan memberikan wahyu kepadanya, dan memerintahkan kepadanya untuk menyampaikan risalahNya sampai tidak ada umatnya yang bisa menyangkal kebenaran risalah yang dibawanya, dan bahwa para rasul diberikan mukjizat untuk menunjukan kebenaran risalah yang dibawanya.

Mengenai Rasul tersebut di dalam Alquran diantaranya: (AnNisa": 136)(AnNahl: 36)(AnNisa": 163).

Para Rasul
Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus RasulNya untuk setiap umat. ( و لكل امة رسول )( Yunus: 47). Rasulullah pernah bersabda ketika ditanya tentang para Nabi: مائة وعشرون الفا والمرسلون منهم ثلاثما ئة و ثلا ثة عشر (HR. Bukhori dan Muslim)
Dan adapun para Rasul yang dijelaskan Allah yang disebut namanya dalam AlQuran ada 25 yaitu:
Adam, Idris, Nuh, Hud, Soleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishak, Ya'qub, Yusuf, Ayub, Su'aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Dawud, Suliaman, Ilyas, Alyas'a, Yunus, Zakariya, Yahya, 'Isa, Muhammad.

Muhammad SAW
Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus seorang Rasul untuk menjelaskan apa yang diturunkan kepadanya(rasul), dan Rasul-rasul tersebut dikhususkan untuk umat tertentu.Nabi Musa diutus untuk bani israil, nabi Isa untuk kaum nasrani, dan setiap rasul untuk kaumnya saja. Akan tetapi berbeda untuk Nabi Muhammad, beliau diutus untuk seluruh umat manusia, karena beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah yang menyampaikan risalahNya yang sempurna, yang termaktub dalam AlQuran. ( وما أرسلنك الا رحمة للعلمين )(AlAnbiya": 107) ( ما كان محمد أبا أحد من رجا لكم و لكن رسولالله و خا تم النبين )( Al Ahzab: 40)
Rasulullah Bersabda: " كلكم يدخلون الجنة الا من ابى قالوا ومن يأبى يا رسول الله؟ قال من اطاعنى دخل الجنة ومن عصانى فقد أبى "( HR Bukhori).
Dan bersabda juga : " فضلت على الأ نبياء بست أعطيت جوامع الكلام و نصرت بالرعب و أحلت الى الغنا ئم وجعلت لي الأرض مسجدا طهورا و ارسلت إلى الخلق كافة و ختم بي النبيون " ( رواه مسلم و الترميذى

11 April 2009

Qurban (islam)


Qurban atau Kurban (bahasa Arab قربن), atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan ritual Qurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, dimana dilakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah. Ritual kurban dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Latar belakang historis

Dalam sejarah sebagaimana yang disampaikan dalam Al Qur'an terdapat dua peristiwa dilakukannya ritual Qurban yakni oleh Habil (Abel) dan Qabil (Cain), putra Nabi Adam, serta pada saat Nabi Ibrahim akan mengorbankan Nabi Ismail atas perintah Allah.

Habil dan Qabil

Pada surat Al Maaidah ayat 27 disebutkan:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".

Ibrahim dan Ismail

Disebutkan dalam Al Qur'an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan Ismail. Diceritakan dalam Al Qur'an bahwa Ibrahim dan Ismail mematuhi perintah tersebut dan tepat saat Ismail akan disembelih, Allah menggantinya dengan domba. Berikut petikan surat Ash Shaaffaat ayat 102-107 yang menceritakan hal tersebut.

102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
104. Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar

Dalil tentang berkurban

Ayat dalam Al Qur'an tentang ritual kurban antara lain :

  • surat Al Kautsar ayat 2: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (anhar)

Sementara hadits yang berkaitan dengan kurban antara lain:

  • “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” HR. Ahmad dan ibn Majah.
  • Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” HR. Ahmad dan ibn Majah
  • “Jika masuk tanggal 10 Dzul Hijjah dan ada salah seorang diantara kalian yang ingin berqurban, maka hendaklah ia tidak cukur atau memotong kukunya.” HR. Muslim
  • “Kami berqurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang. “ HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi.

Hukum kurban

Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan fuqaha (ahli fiqh) menyatakan bahwa hukum qurban adalah sunnah muakkadah (utama), dan tidak ada seorangpun yang menyatakan wajib, kecuali Abu Hanifah (tabi’in). Ibnu Hazm menyatakan: “Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.

Syarat dan pembagian daging kurban

Syarat dan ketentuan pembagian daging kurban adalah sebagai berikut :

  • Orang yang berkurban harus mampu menyediakan hewan sembelihan dengan cara halal tanpa berutang.
  • Kurban harus binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, atau biri-biri.
  • Binatang yang akan disembelih tidak memiliki cacat, tidak buta, tidak pincang, tidak sakit, dan kuping serta ekor harus utuh.
  • Hewan kurban telah cukup umur, yaitu unta berumur 5 tahun atau lebih, sapi atau kerbau telah berumur 2 tahun, dan domba atau kambing berumur lebih dari 1 tahun.
  • Orang yang melakukan kurban hendaklah yang merdeka (bukan budak), baligh, dan berakal.
  • Daging hewan kurban dibagi tiga, 1/3 untuk dimakan oleh yang berkurban, 1/3 disedekahkan, dan 1/3 bagian dihadiahkan kepada orang lain.

Waktu berkurban

  • Awal waktu

Waktu untuk menyembelih kurban (qurban) bisa di 'awal waktu' yaitu setelah shalat Ied langsung dan tidak menunggu hingga selesai khutbah. Bila di sebuah tempat tidak terdapat pelaksanaan shalat Ied, maka waktunya diperkirakan dengan ukuran shalat Ied. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum waktunya maka tidak sah dan wajib menggantinya .

Dalilnya adalah hadits-hadits berikut: a. Hadits Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا وَنَسَكَ نُسُكَنَا فَقَدْ أَصَابَ النُّسُكَ وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا أُخْرَى “Barangsiapa yang shalat seperti shalat kami dan menyembelih hewan qurban seperti kami, maka telah benar qurbannya. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain.” (HR. Al-Bukhari no. 5563 dan Muslim no. 1553) Hadits senada juga datang dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhari (no. 5500) dan Muslim (no. 1552).

b. Hadits Al-Bara` riwayat Al-Bukhari (no. 5556) dan yang lainnya tentang kisah Abu Burdah radhiyallahu ‘anhu yang menyembelih sebelum shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ “Kambingmu adalah kambing untuk (diambil) dagingnya saja.” Dalam lafadz lain (no. 5560) disebutkan: وَمَنْ نَحَرَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ يُقَدِّمُهُ لِأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ شَيْءٌ “Barangsiapa yang menyembelih (sebelum shalat), maka itu hanyalah daging yang dia persembahkan untuk keluarganya, bukan termasuk hewan qurban sedikitpun.”

  • Akhir waktu

Waktu penyembelihan hewan qurban adalah 4 hari, hari Iedul Adha dan tiga hari sesudahnya. Waktu penyembelihannya berakhir dengan tenggelamnya matahari di hari keempat yaitu tanggal 13 Dzulhijjah. Ini adalah pendapat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Al-Hasan Al-Bashri imam penduduk Bashrah, ‘Atha` bin Abi Rabah imam penduduk Makkah, Al-Auza’i imam penduduk Syam, Asy-Syafi’i imam fuqaha ahli hadits rahimahumullah. Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Mundzir, Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (2/319), Ibnu Taimiyah, Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/406, no. fatwa 8790), dan Ibnu ‘Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/411-412). Alasannya disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu sebagai berikut: 1. Hari-hari tersebut adalah hari-hari Mina. 2. Hari-hari tersebut adalah hari-hari tasyriq. 3. Hari-hari tersebut adalah hari-hari melempar jumrah. 4. Hari-hari tersebut adalah hari-hari yang diharamkan puasa padanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلهِ تَعَالَى “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.” Adapun hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: كَانَ الْمُسْلِمُوْنَ يَشْرِي أَحَدُهُمُ اْلأُضْحِيَّةَ فَيُسَمِّنُهَا فَيَذْبَحُهَا بَعْدَ اْلأضْحَى آخِرَ ذِي الْحِجَّةِ “Dahulu kaum muslimin, salah seorang mereka membeli hewan qurban lalu dia gemukkan kemudian dia sembelih setelah Iedul Adha di akhir bulan Dzulhijjah.” (HR. Al-Baihaqi, 9/298) Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengingkari hadits ini dan berkata: “Hadits ini aneh.” Demikian yang dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir (5/193). Wallahu a’lam.

  • Menyembelih di waktu siang atau malam?

Tidak ada khilafiah di kalangan ulama tentang kebolehan menyembelih qurban di waktu pagi, siang, atau sore, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَاتٍ “Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28)

Mereka hanya berbeda pendapat tentang menyembelih qurban di malam hari. Yang rajih adalah diperbolehkan, karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Ini adalah tarjih Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu dalam Asy-Syarhul Mumti’ (3/413) dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/395, no. fatwa 9525). Yang dimakruhkan adalah tindakan-tindakan yang mengurangi sisi keafdhalannya, seperti kurang terkoordinir pembagian dagingnya, dagingnya kurang segar, atau tidak dibagikan sama sekali. Adapun penyembelihannya tidak mengapa. Adapun ayat di atas (yang hanya menyebut hari-hari dan tidak menyebutkan malam), tidaklah menunjukkan persyaratan, namun hanya menunjukkan keafdhalan saja. Adapun hadits yang diriwayatkan Ath-Thabarani dalam Al-Kabir dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan lafadz: نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الذَبْحِ بِاللَّيْلِ “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyembelih di malam hari.” Al-Haitsami rahimahullahu dalam Al-Majma’ (4/23) menyatakan: “Pada sanadnya ada Salman bin Abi Salamah Al-Janabizi, dia matruk.” Sehingga hadits ini dha’if jiddan (lemah sekali). Wallahu a’lam. (lihat Asy-Syarhul Kabir, 5/194)

Sosialisasi Kurban

Iklan untuk berkurban dan membeli binatang kurban melalui organisasi tertentu

Umat muslim dianjurkan untuk berkurban. Gambar berikut adalah iklan untuk berkurban, dan membeli binatang untuk kurban dari sumber tertentu yang dimuat di Koran Media Indonesia pada bulan Desember 2005 oleh organisasi Dompet Dhuafa.

Lihat pula

Pranala luar

Referensi


Ta'ashub

Ta'ashub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainkan sebuah penyakit yang secara sadar atau tidak sadar mampu menginfeksi siapa saja. Penyakit ini termasuk penyakit yang berbahaya dan memiliki kemampuan untuk merusak tatanan syariat Islam.

Makna Kata Ta'ashub

Kata ta’ashub secara bahasa berasal dari kata Al-‘Ashabiyah yang berarti semangat golongan. Sedang kata Ta’ashaba berarti pengencangan pembalut, atau perkumpulan atau ikatan. Dan Ta’ashaba bi as-syai’ artinya radhiya bihi (rela terhadapnya).

Makna secara istilah

  1. Menjadikan apa yang datang dari seseorang yang berupa pendapat atau apa yang diriwayatkannya berupa ijtihad sebagai hujjah bagimu dan bagi semua orang.
  2. Apa yang dikatakan oleh yang lainnya: “(Yaitu) kebiasaan dari kebiasaan-kebiasaan orang-orang yang lemah dan celah dari celah-celah kebodohan. Dimana jika seseorang tertimpa olehnya, akan membutakan mata dan akan merampas akalnya. Maka orang ini tidak bisa melihat kebaikan kecuali apa yang baik menurutnya, tidak bisa melihat kebenaran kecuali yang sesuai dengan madzhabnya atau orang-orang yang berta’ashub padanya.”

Konsekuensi Perilaku Ta'ashub

Orang yang tertimpa ta’ashub golongan atau ta’ashub syakhshi (orang tertentu selain Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam) akan tergelincir pada kesesatan dan enggan untuk mengikuti al-Haq/al-Huda. Sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta'ala gambarkan dalam firman-Nya Al Qur'an surat Az-Zukhruf ayat 23-24, bahwa ta’ashub benar-benar bisa membutakan mata dan merampas akal sehat sehingga barang siapa yang ada padanya penyakit ini maka dia tidak bisa lagi melihat kebenaran dan petunjuk.

Aqidah

‘Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu(التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.


[1] Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.


Jadi, ‘Aqidah Islamiyyah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah ازوجلّ dengan segala pelaksanaan ke-wajiban, bertauhid [2] dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih. [3]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

_________

Foote Note :

[1]. Lisaanul ‘Arab (IX/311:عقد) karya Ibnu Manzhur (wafat th. 711 H) t dan Mu’jamul Wasiith (II/614:عقد).

[2]. Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ wa Shifat Allah.

[3]. Lihat Buhuuts fii ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 11-12) oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql, cet. II/ Daarul ‘Ashimah/ th. 1419 H, ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (hal. 13-14) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dan Mujmal Ushuul Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah oleh Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql.

Pembagian Aqidah Tauhid

Walaupun masalah qadha' dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi Allah telah membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka itu senantiasa rnenempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat. Menurut mereka qadha' dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

Pertama: Tauhid Al-Uluhiyyah, ialah mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya semata.

Kedua: Tauhid Ar-Rububiyyah, ialah rneng esakan Allah dalam perbuatanNya, yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang Mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.

Ketiga: Tauhid Al-Asma' was-Sifat, ialah mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala. dalam dzat, asma maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid ar-rububiyah. Oleh karena itu Imam Ahmad berkata: "Qadar adalah kekuasaan Allah". Karena, tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasaanNya yang menyeluruh. Di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang- tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahui kecuali Dia, tertulis pada Lauh Mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang benar.

[Disalin dari kitab Al-Qadha wal Qadar, edisi Indonesia Qadha & Qadhar, Penyusun Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah A.Masykur Mz, Penerbit Darul Haq, Cetakan Rabi'ul Awwal 1420H/Juni 1999M]


Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah Azza wa Jalla, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40. [Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

Tauhid

Tauhid (Arab :توحيد), adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah.

Tauhid dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat sahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.

Kedudukan Tauhid dalam Islam

Seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat merupakan syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan rasulullah.

Dalil Al Qur'an Tentang Keutamaan & Keagungan Tauhid

Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu" (QS An Nahl: 36)

"Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan" (QS At Taubah: 31)

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)" (QS Az Zumar: 2-3)

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus" (QS Al Bayinah: 5)

Perkataan Ulama tentang Tauhid

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: "Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa serta taat kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Orang yang mentadabburi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya" (Majmu' Fatawa 15/25)

Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.

Jika syetan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai bid'ah dan khurafat. (Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayaan, hal 4)

Pembagian Tauhid

Rububiyah

Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al Quran surat Az Zumar ayat 62 :"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu"

Uluhiyah/Ibadah

Beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bangiNya. "Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana" (Al Imran : 18). Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyahNya.

Asma wa Sifat

Beriman bahwa Allah memiliki nama dan sifat baik (asma'ul husna) yang sesuai dengan keagunganNya. Umat Islam mengenal 99 asma'ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah.

Tidak ada Tauhid Mulkiyah

Tauhid itu ada tiga macam, seperti yang tersebut di atas dan tidak ada istilah Tauhid Mulkiyah ataupun Tauhid Hakimiyah karena istilah ini adalah istilah yang baru. Apabila yang dimaksud dengan Hakimiyah itu adalah kekuasaan Allah Azza wa Jalla, maka hal ini sudah masuk ke dalam kandungan Tauhid Rububiyah. Apabila yang dikehendaki dengan hal ini adalah pelaksanaan hukum Allah di muka bumi, maka hal ini sudah masuk ke dalam Tauhid Uluhiyah, karena hukum itu milik Allah Subhanahu wa Ta'ala dan tidak boleh kita beribadah melainkan hanya kepada Allah semata. Lihatlah firman Allah pada surat Yusuf ayat 40. [Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]